Kenapa Bencana Melanda Negara Mayoritas Islam??

Pertanyaan seperti ini (kenapa bencana melanda negara mayoritas islam) mungkin sering muncul dalam angan-angan kita, dan barangkali juga menjadi kegalauan bagi ummat Islam, dengan pertanyaan yang sama. Misteri apa dibalik semua ini?

Bencana, Banyak terlihat di mata kita sebagai suatu kesialan. Tanpa Kita Sadari, atau bahkan kita tidak mau menyadari bahwa di balik bencana itu ada hikmahnya. Mungkin Ini adalah beberapa hikmahnya :

Pertama: Allah menguji manusia dengan hal-hal yang buruk dan hal-hal yang baik. Untuk mengukur sejauh mana kesalehan tindakannya di dunia sebagai hamba, dan sekaligus apakah seorang hamba lulus menghadapi ujian-ujian itu. Jika lulus ia naik derajat, dan jika tidak, ia terdegradasi.

Kedua: Allah menyeleksi para hambaNya dari semua level dan kalangan. Mulai dari paling awam, paling elit atau pun dari kalangan biasa, pejabat, politisi, pengusaha, ustadz, kyai, ulama, dan tukang becak. Nilai derajat itu ditentukan, apakah sang hamba sabar dan ridlo atau tidak. Bukan dilihat dari - apakah seorang itu semakin sukses dan bangkrut,- bukan itu ukurannya.

Ketiga: Allah ingin mempercantik alam ini, dan tentu saja memasukkannya dalam salon ruhaniyah melalui bencana itu, agar semesta kelak lebih indah dan menyejukkan iman kita.

Keempat: Agar kita semua bosan dan jenuh dengan kepalsuan dunia, dan lebih memilih Allah dan RasulNya. Karena Kecemburuan Allah pada kita, atas Cinta dan KasihNya yang Agung kita abaikan, dengan perselingkuhan kita pada makhluk, akhirnya Allah membentak kita dengan sesuatu yang keras, agar kita kembali ke pelukan RahmatNya. Bentakan Allah itu diturunkan semata karena saking cinta dan sayangNya Allah kepada kita.

Kelima: Banyaknya gelombang yang melebihi dahsyatnya Tsunami. Suatu badai kekeringan dan kegersangan spiritual, yang menumbuhkan kehausan dan kegersangan jiwa dari ummat Islam itu sendiri. Begitu marak bendera-bendera Islam, slogan-slogan takbir, teriakan-teriakan demonstran membela Islam, tetapi hati dan ruh mereka seperti terpanggang di atas sahara kegersangannya. Lalu mereka kehilangan moral sejati, akhlaq ruhani, kebeningan hati sebagai ummat, lebih senang bermain-main di kawasan limbah dan kulit-kulit kering belaka.

Keenam: Jika banyak orang miskin yang tak berdosa terkena bencana, sementara koruptor semakin berjaya, ketidakadilan semakin merajalela, dan premanisme semakin bergaya, semata karena Allah menyayangi hamba-hambaNya yang miskin, agar tidak terkutuk bersama-sama para penjahat itu, para munafiqin yang mengaku sok Islam tetapi hatinya busuk itu.

Ketujuh: Derajat ummat ditentukan sejauhmana keikhlasannya dalam beribadah, kesabarannya dalam menghadapi cobaan, keridloaannya dalam merespon ketentuan dari Allah Ta'ala.

Kedelapan: Allah tidak pernah menzalimi hambaNya tetapi para hamba itu sendiri yang menzalimi diri sendiri. Allah tidak pernah marah kecuali karena didahului oleh rasa CintaNya yang Agung. Allah tidak pernah memanipulasi para hambaNya dan tidak punya kepentingan dengan maksiat atau taatnya hamba. Tetapi, para hamba seringkali memanipulasi Nama-Nama BesarNya demi hawa nafsunya, simbo-simbolNya demi kepentingan kekuasaan hamba, dan sesungguhnya para hambalah yang butuh Allah Ta'ala.

Kesembilan: Para hamba Allah di muka bumi telah banyak kehilangan rasa kehambaannya. Mereka lebih senang menjadi hamba dunia dan nafsunya, bahkan sangat bangga menjadi hambanya syetan. Coba anda survey di khalayak, berapa persen ummat Islam ini yang masih memegang teguh sifat kehambaanya: Rasa Fakir kepada Allah, Rasa hina di depan Allah, Rasa tak berdaya di hadapanNya, Rasa lemah di depanNya? Bukankah mayoritas saat ini malah merasa cukup dan tidak butuh Allah, merasa mulia karena menganggap dirinya lebih Islam dan lebih dekat Allah; merasa kuat dan berkuasa di muka bumi?

Kesepuluh: Dalam dunia Sufi, menghadapi cobaan dengan kesabaran, diperuntukkan kalangan awam. Tetapi bersyukur atas bencana dan cobaan, adalah sikap bagi kalangan khusus. Bersyukur terhadap nikmat adalah sikap kaum awam, bersabar menghadapi nikmat adalah sikap kalangan khusus.

Kesebelas: Jangan dikira, bahwa kejadian-kejadian alam yang hancur itu bukan karena ulah manusia. Akal dan pengetahuan manusia yang terbatas beralibi: Bagaimana bencana terjadi karena ulah manusia? Bukankah ini gejala alam murni? Bukankah ini semua bisa diprediksi? Bukankah bencana ini karena faktor-faktor evolusi dan seterusnya? Mari kita belajar pada tragedi Nuh as, ketika putranya Kan'an mengandalkan ilmu pengetahuan dan rasionya, sampai ia tenggelam dalam kekufurannya. Belajar pula pada kaum Luth, ketika ulah mereka menimbulkan bencana bumi yang tragis. Ingatlah pula hadits Nabi saw, mengenai Qiyamat, "Bahwa kiamat tidak akan terjadi sepanjang masih ada satu manusia yang berdzikir Allah Allah…"

Keduabelas: Bila Cahaya menerangi seluruh dunia dan seluruh ummat manusia mengalami pencerahan semua tanpa sisa, dunia pun akan kiamat. Begitu juga sebaliknya, jika kegelapan memenuhi jiwa manusia seluruhnya secara total, dunia juga kiamat. Namun, hadits Nabi memberikan indikasi bahwa fakta qiamat bagi dunia adalah ketika dunia dengan manusianya mencapai kegelapan total. Bukan Cahaya total.

Ketiga Belas: Ibadah, kepatuhan, ketaqwaan, kesalehan, dan kemuhsinan ummat Islam, sangat mempengaruhi perjalanan kosmik semesta, karena manusia adalah sentral dari makhluk Allah, dan sentral manusia adalah qalbunya. Begitu juga sebaliknya, kejahatan, kebejatan, kesombongan dan kealpaan manusia mempengaruhi tatasurya dan jagad semesta. Dalam dunia Sufi disebutkan, bahwa aspek lahiriyah fisika itu hanyalah akibat dari batin dan hakikat kita.

Keempatbelas: Perhitungan matematika, logika dan fisika, hanyalah perhitungan gejala dan tanda. Ada yang lebih neukleus (inti) bahwa perhitungan ruhani menempati posisi sentral dalam gerak gerik semesta ini.

Kelimabelas: Bagaimana anda melihat bencana? Anda lihat dengan matahati anda sendiri-sendiri: Jika anda sedang dalam gairah mencintai Allah dan RasulNya, matahati akan memandang betapa agungnya Asma dan SifatNya. Jika anda sedang alpa dan lalai, menuruti kepentingan nafsu diri, itulah bentakan-bentakan Ilahi kepada anda. Jika Anda dalam kondisi sangat miskin secara duniawi, padahal anda dekat denganNya, itulah cara Allah menyelamatkan diri anda. Jika anda sedang berkecukupan, tetapi harta anda menumpuk bagai sampah di peti kekayaan anda, itulah cara Allah mengingatkan agar anda mengeluarkan kotoran-kotoran harta anda. Jika anda sedang bercahaya bersamaNya; itulah cara Allah menampakkan KemahasucianNya, dan caraNya memperdengarkan tasbihnya alam kepada anda.

Keenambelas: Lihatlah dengan matahati pula, dibalik yang tampak di semesta kehidupan ini, maka disanalah matahati menyaksikan Allah, dibalik, dibawah, di atas, sebelum, sesudah alam semesta ini. Jika tak mampu demikian, sesungguhnya matahati anda sedang kabur dari Cahaya Allah, karena tertupi oleh mendung-mendung duniawi dan nafsu anda, dari Cahaya ma'rifat kepadaNya.

Mari Kita Renungkan semua itu, sembari terus beristighfar kepada Allah…
Suka Artikel Ini? Bagikan !! :

+ komentar + 3 komentar

21 Desember 2011 20.56

Bagaimana cara membedakan antara adzab dan ujian?

24 Desember 2011 23.09

Apa yang harus kita lakukan saat iman naik turun?

24 Desember 2011 23.20

Rendhy@ : Memperbanyak ibadah, baik dzikir, sholat, puasa dan lain-lain. Jangan menuruti rasa malas, lawan, lawan dan lawan !!!

Poskan Komentar

Habib Syeh

  1. Ya Habib.mp3
  2. Qowiyah.mp3
  3. Ya Alloh Biha.mp3
  4. Maqoshidna.mp3
  5. La ilaha Ilallah.mp3
  6. Ya 'ala baitin nabi.mp3
  7. Yaa Arhamarrahimiinn.mp3
  8. Busyrolanaa.mp3
  9. Dunuunii.mp3
  10. Lighoiri Jamalikum.mp3
  11. Maulana Yaa Maulanaa.mp3
  12. Qod Tamammallahu maqosyidana.mp3
  13. Habib Syech - Sholawatullohi Taghsya.mp3
  14. Yaa Dzaljalaali Wal Ikraam.mp3
  15. Yaa Laqolbi.mp3
  16. Yaa Latifa Bil'ibad.mp3
  17. Yaa Maulidal Musthofa.mp3
  18. Yaa Rasulalloh Salamun Alaik.mp3
  19. Yaa Robbi Makkah.mp3
  20. Yaa Robbibil Musthofa.mp3
  21. 21 Yaa Nabi Salam.mp3
  22. Yaa Maulidal Musthofa.mp3
  23. Yaa Syayyidarrasul Yaa Tohir.mp3
  24. Yaa Robbi Yaa AlimulHal.mp3
  25. Bi Rojauka.mp3
  26. Bijahil Musthofalmuchtar.mp3
  27. Binafsi Afdii.mp3
  28. Allaahu Allaah.mp3
  29. Ahlan wasahlan Binnaby.MP3
  30. Yaa Rabbama.mp3
  31. Qod Kafaanii Ilmu Robbi.mp3
  32. Yaa Rabbila'liman.mp3
  33. Ilaahi Nas'aluka.mp3
  34. Sholatun (Vol.7).mp3
  35. Miftahul Jannah (Vol.7).mp3
  36. Ya Hadi (Vol.7).mp3
  37. Allahumma (Vol.7).mp3
  38. Marhaban ya Nurol'aini (Vol.7).mp3
  39. Burdah (Vol.7).mp3
  40. Ya Kaadul (Vol.7).mp3
  41. Alfa Shollalloh (Vol 6).mp3
  42. Khoirol Bariyah (Vol 6).mp3
  43. Assalamu 'alaik (Vol 6).mp3
  44. Sholawat Badar (Vol 6).mp3
  45. Thola'albadru (Vol 6).mp3
  46. Khobiri (Vol 6).mp3
  47. Alfa Sholallah (Live Mataram).mp3
  48. Allahumma Sholli Ala Muhammad (Live Mataram).mp3
  49. Tholama Asyku (Live Mataram).mp3
  50. Ya Waridal (live Mataram).mp3
  51. Allahumma Sholli 'ala Muhammad (Live Sragen).mp3
  52. Pra-Annabi Shollu 'Alaih (Live Sragen).mp3
  53. Pra-Shallallahu 'ala Muhammad (Live Sragen).mp3
  54. Pra-Qod tamammallah (Live Sragen).mp3
  55. La Ilaha Illallah (Allah-Allah)- (Pertamina Bersholawat).mp3
  56. Sholatun Bissalamil Mubin (Pertamina Bersholawat).mp3
  57. Ya Badrotim (Pertamina Bersholawat).mp3
  58. Sholli wa Salim (Pertamina Bersholawat).mp3
  59. Assalamu 'Alaik Zainal Anbiya' (Pertamina Bersholawat).mp3
  60. Ya Habib (Pertamina Bersholawat).mp3
  61. Ya Laqolbin (Pertamina Bersholawat).mp3
  62. Ya Rasulullah Ya Nabi (Pertamina Bersholawat).mp3
Mohon Maaf Blog Sudah Tidak Aktif Lagi, Admin Sudah Jarang Online.

Total Kunjungan

 
© 2014. Fiqh Madzhab Syafi'i - All Rights Reserved
Template by Mas Kolis